Rabu, 07 Juli 2010

Samurai Warrior (ch.1)

ff lagi.. tapi ga ada kata2 koreanya, cuma ada tokoh dari korea doang...

----------------------------------------------------------------

Title: Samurai Warrior
Cast: Choi Jinli (sulli), Yura Ashida
Other cast: Saruwatari Ryouji
Genre: gatau..

----------------------------------------------------------------

“ayah, apa aku bisa jadi sepertimu?”


“ya, asalkan kau mau bersungguh-sungguh”

“apa aku bisa gunakan ini sesuka hatiku?”

“tidak, nak, kau harus gunakan ini untuk kebaikan”

“memangnya kenapa?”

“kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih buruk dari hanya sekedar mati”
















“hai” seorang wanita berambut panjang terkuncir di atas leher dengan sebilah pedang samurai berkilau, “kukira kau tidak akan datang”

“tidak akan” pria berwajah blesteran jepang Amerika dengan rambut cepak berwarna hitam menggenggam pedang yang masih tersarung. Sebuah senyum terukir diwajahnya, “senang bertemu denganmu”

“kau siap?” ujar wanita itu dengan nada menantang. Menghapus senyumnya, pria itu mengeluarkan pedang hitam yang berkilau di balik sarung pedang yang menyelimuti “tidak usah banyak berbicara”
Mereka maju bersama, membenturkan kedua pedang mereka. Sang wanita menggerakkan pedangnya dengan gesit, tapi tidak begitu cepat untuk dapat melukai lawannya.

Dengan tangan yang kuat, pria itu menangkis dan melangkah mundur memberi kesempatan kepada lawannya mengurangi tenaga untuk beberapa saat.

Tampa ragu, wanita itu mengambil kesempatan yang diberikan untuk menyerangnya lebih banyak.
Dan ketika saatnya tiba, sang pria menyerangnya dibagian bawah yang terdapat sedikit celah untuknya, tapi tidak terlalu cepat bagi sang wanita, ia berhasil melompat kebelakang.

Kini posisi berbalik, pria rambut hitam itu menyerangnya bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan lawannya untuk menyerang. Wanita itu terus saja menahan semua serangan itu.

Sang wanita melompat tinggi melewati lawannya hingga ia mendarat di belakang pria itu, menyerang punggungnya. Tanpa perlu melihat, pria itu menangkisnya dengan cepat. Dan pertarungan berlangsung sengit dengan jangka waktu yang lumayan lama.

Setelah bebearapa ayunan pedang menyerang sang wanita, kini mereka berada pada posisi yang seimbang, wanita dengan rambut panjang berwarna coklat kehitaman itu berada didepan pedang hitam yang hampir mengenai lehernya, namun ia menahan tangan lawannya dengan tangan kirinya. Posisi sang pria pun tidak jauh berbeda.

Mereka saling menurunkan pedangnya, “ternyata kau masih tangguh, sulli” pria itu mengamankan pedang hitamnya ke dalam sarung , “kau juga, yura” wanita itu pun melakukan hal yang sama.

“kapan kita akan ditugaskan bersama ya? Kurasa aku sangat menginginkan rekan sepertimu” harapan itu terlontar dari bibir kecil wanita yang dipanggil sulli itu, “yah, kuharap juga seperti itu, pasti akan menarik bisa bekerja sama dengan pendekar wanita yang tangguh ini” ujar yura menampakkan senyum tipisnya.

“apa sekarang kau sedang dibayar seseorang?” sulli membenarkan tali pengail pedangnya sembari menatap pria gagah didepannya. Dengan waktu yang tipis pria itu terdiam. Dan tersenyum kembali.

“tidak, aku sedang tidak ada kerjaan untuk saat ini, bagaimana dengan kau?” gumam yura menjauhkan jaraknya dari wanita itu dan mulai mendekati batang pohon dibelakangnya, dan dia mulai mengibaskan pedangnya, membuat sebuah goresan yang lumayan dalam terukir di dahan itu.

“ya, seorang dari kaum ningrat di daerah Osaka memberikanku bayaran yang lumayan” kata-kata wanita yang terbilang cukup manis ini berhasil membuat yura menoleh ke arahnya. “apa tugasnya?” lelaki itu mulai menghadap sulli kembali. “mungkin akan sedikit menyusahkan, aku harus membunuh seseorang yang tinggal di daerah Kyoto. Yaah, kata tuan baruku ini sih orang itu juga membayar seseorang untuk membunuhnya.”
Seketika itu pembicaraan mereka tertahan sebuah kesunyian, tidak ada suara lagi selain gesekan dedaunan yang gugur tertiup angin. Mereka berdua tetap terdiam, tidak, bukan mereka, tapi Yura.

“yura? Apa kau baik-baik saja?” ujar sulli yang melihat pendekar tangguh didepannya ini memijit ubun-ubunnya, “ya, hanya sedikit pusing” gumam Yura cuek. Dia berjalan satu dua langkah menjauhi wanita itu, menghadap beberapa pohon berdaun merah kecoklatan yang begitu cantik. Ia kembali menoleh wanita itu yang sebelumnya dia menghentikkan langkah dan diam untuk beberapa detik yang tak berati, “sulli, apa kau yakin bisa mengalahkan orang itu?”

Mendengar pertanyaanya, sulli menatap pria tampan itu, “ada apa? Pertanyaanmu sungguh tidak biasa? Seolah-olah kau meremehkanku” ujarnya mengernyitkan dahi.

“bukan, apa kau bisa membunuhnya? Mungkin saja ada suatu alasan yang membuatmu menahan seranganmu”

“dari gelagatmu, sepertinya kau tahu siapa yang akan kubunuh”

Kata-kata yang barusan bergelombang di udara berhasil membuat pria itu terdiam kembali. “ya, aku tahu siapa, tapi aku tidak tahu bisakah aku memberitahu orang itu padamu” suasana lelaki itu terasa tegang, matanya menyorotkan keraguan, membuatnya menghela nafas lega.

Sulli dengan tiba-tiba berkata, “baiklah, senang bertemu denganmu. Kuharap kita bisa bertemu kembali” dia membalikkan badan, memperjauh jarak antara pria itu.

Yura hanya dapat menatap punggung wanita yang ia kenal sejak kecil itu. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran, dan mungkin sedikit ketakutan. Dan kini ia berbalik arah, berjalan meninggalkan tempat pertarungan dia dengan sahabatnya itu.

***

“Choi Jinli?”

“ya”

Pintu besar menjulang terbuka. Seseorang disebrang pintu itu yang membukanya.

“Sudah ditunggu Tuan di dalam, silahkan masuk” dengan datar, sulli mengangguk, memberikan kudanya pada pelayan tadi, dan pelayan itu mengikatnya disebuah kayu tempat pekarangan kuda. Sulli menuju tempat kediaman Seorang dari kaum ningrat di daerah Osaka, Tuannya.

“hai jinli, senang bertemu denganmu lagi”
“senang bertemu anda lagi, tuan” jinli sedikit berlutut. “tidak perlu berlutut, anggap aku rekanmu” ujar seseorang dengan wajah orang berumur sekitar 40 tahunan mengangkat tangannya. “terima kasih atas kerendahan hati anda, tuan” sulli merunduk dan mulai duduk di hadapan tuannya itu. Orang itu tersenyum menanggapi permintaan terima kasih dari seorang wanita kelahiran korea ini.
“Sulli”
“ya, tuan?”
“aku tahu, kedudukan wanita saat ini lebih rendah dibandingkan pria. Tapi kurasa kau berbeda, kau wanita yang lebih memilih menjadi ksatria samurai, meskipun seharusnya tidak diperbolehkan, tapi kau tidak kalah tangguh dengan para ksatria pria lainnya”
“terima kasih”
“ingat, aku hanya meminta orang itu dibunuh, tapi hati-hati, jangan melibatkan orang lain”
“baik”
“kau bisa mulai sekarang”
“terima kasih atas izinnya, tuan”

***
“guru?”

“masuk”

Yura menggeser pintu kanvas di depannya, melangkah dengan hati-hati. “ada perlu apa?” ujar seorang tua yang duduk beralaskan sebuah bantal tipis berwarna putih menghadap kearah dalam, menatap beberapa pedang yang terjejer rapi di tempatnya, memunggungi yura, “hanya ingin bertanya satu hal” yura menambah langkahnya mendekati gurunya itu, “duduklah” orang tua itu membalikkan badannya. Wajahnya terlihat berkeriput di bagian mata dan pipi, rambutnya yang abu2 karena uban, tapi posisi duduknya masih tegap.

“apa kau sedang ada masalah dengan sulli?” orang dengan umur sekiranya 70 tahun ini menyeringai kearah mantan muridnya, seolah-olah sangat menuntut jawaban.

“ya, kurasa”
“siapa yang memulai masalahnya lebih dulu?”
“tidak ada diantara kami”

“bagaimana kalau, sesuatu?” guru mencondongkan badanya sedikit kedepan, menatap mata yura yang sedang tidak memandangnya.

“ya, ada sesuatu yang membuat kami berada dalam masalah” pada akhirnya yura menatap gurunya. Orang tua itu menarik nafas memulai perkataan, “kurasa aku sudah tau jawabannya” gumaman sang guru membuatnya menatap lebih tajam, “yang ingin kutanyakan, apa yang bisa kuperbuat sekarang?”
Guru itu terdiam, kemudian bangkit, berjalan menuju pedangnya lebih dekat dan mengelusnya. “kalau pertanyaan itu, aku tidak bisa menjawabnya” ujarnya tanpa menghadap yura.
Sebelum Yura mengajukan pertanyaan seperti ‘kenapa’, dia telah mendengar jawabannya lebih dulu, “karena itu hanya bisa dijawab olehmu, hati nuranimu”

“apa aku tidak bisa mendengar setidaknya nasihat darimu?”

Sang guru terdiam sejenak sebelum ia membalikkan tubuhnya kehadapan Yura, “baik, ini nasihatku” guru itu mulai mendehem-dehem, “pilihlah yang terbaik, pilih yang menurutmu lebih berharga”
Yura menekuk alisnya, merasa jawaban guru tidak memberikan solusi, “apa tidak ada yang lain, yang lebih membuka masalah ini?” dengan cepat guru menjawab, “tidak. Tidak ada, kau memintaku untuk memberikan nasihat untukmu kan?”

“Tapi…”

“pikirkan dengan bijak, memilih termasuk sesuatu yang sulit, terkadang bisa lebih sulit dari membunuh musuh dalam keadaan terluka parah” pria tua itu memajukan langkahnya, “kau harus memilih antara mempertahankan bushido, atau kau tetap melanjutkannya dengan resiko kau akan terbunuh oleh musuh dan artinya kau tidak mempertahankan bushido itu sendiri”

Bushido, pedoman hidup untuk para samurai dalam feodalisme, maknanya dapat diartikan seperti, ‘lebih baik mati secara terhormat daripada mati di tangan musuh’

Yura membukam. Kini otaknya mulai panas, panas memikirkan beberapa kata yang membuatnya pusing sesaat, seperti ‘apa yang harus kupilih?’ atau ‘bagaimana ini’ dan tak jarang sebuah permohonan semacam ‘adakah yang bisa memberiku keputusan?’ semuanya terasa menyulitkan bagi seorang Yura. Dia memang pemberani juga tangguh, tapi dia sangat pengecut untuk mengambil sebuah keputusan yang harus dan hanya dia yang bisa memilih. Yang awalnya dia berharap pada mantan gurunya dan Sulli akan dapat memilih keputusan itu, dan nyatanya tidak.

“baik, aku ingin bertemu sulli”
Yura keluar begitu saja . Orang tua itu tidak menahannya, hanya bergeleng pelan dan kembali duduk.

Yura menuju ke arah kuda coklat di halaman rumah, menepuk moncong kuda kesayangannya itu dan mulai menungganginya. Dia mulai berjalan jauh, menuju ke daerah Kyoto. Di sanalah dia bertemu seseorang. Bukan Sulli.

_TBC_

hmmm, akan saya lanjutkan, entah kapan -__-

2 komentar:

Febbboyy :] mengatakan...

yang ini bagus :)

iyo mengatakan...

makasih! :n: