Sabtu, 13 November 2010

Strenght of the weakness ch.1

saran : yg gapunya lagu switchfoot - your love is a song, donlot dulu

___________________________________________

Lelaki itu berkulit putih berambut hitam seleher, mengenakan baju hitam dan mengenakan celana jins hitam. Dia berjalan menuju sebuah sekolah dengan menggendong sebuah gitar yang masih tersarung di punggungnya. Menaiki satu persatu anak tangga di depan pintu masuk sekolah itu. Terlihat pemandangan disekitar, beberapa orang wanita maupun pria yang berjalan ataupun tidak, yang pasti mereka semua sama seperti dirinya, murid baru. Sekolah ini baru berdiri sebulan yang lalu, dan baru menerima murid baru hari ini, dan sekolah ini adalah School of Music & Art.

Pria ini tiba di sebuah ruangan. Ruang yang cukup luas berdinding merah dengan karpet hitam dibawahnya, terdapat sebuah drum, keyboard, beberapa mic, sebuah gitar listrik dan bass. Tidak hanya barang-barang itu yang ada diruangan ini, seseorang, wanita. Berambut panjang digerai, dengan kaos putih dan celana jinsnya. Wanita itu duduk di kursi dan tepat di depannya seperangkat alat musik drum berwarna hitam. Pria itu memandang sang wanita, wanita itu juga demikian.

"apa?"

"apa kau memainkan itu?"

"ya, apa ada yang bisa kau mainkan?"

"gitar"

"aa.. apa kau mau bermain bersamaku?"

"tentu"

Pria itu mengeluarkan gitar dari sarungnya. Sebuah gitar listrik tua keluar dari sarung itu. Dengan pemandangan yang ia lihat, wanita itu terdiam untuk beberapa saat.

"itu punyamu? apa orang tuamu?"

"punyaku, dari ayahku. Ada yang salah?"

"kurasa itu terlalu tua untuk kau mainkan, bagaimana kalau kau gunakan yang itu saja?" wanita itu menunjuk sebuah gitar di dekat sang pria dengan stick drum.

"tidak, ini saja cukup. Meskipun terlihat tua, tapi gitar ini masih bagus untuk dimainkan"

"baiklah, terserah kau saja"

Pria itu memasang kabel dari speaker disebelahnya ke sebuah lubang digitarnya. Dia memulai dengan memetik beberapa senarnya sambil memandang ke arah langit-langit untuk berfikir lagu apa yang akan ia mainkan. Setelahnya ia memainkan beberapa not pada gitarnya dan mulai berdengung pada mic di depannya.

switchfoot - your love is a song

I hear you breathing in
Another day begins
The stars are falling out
My dreams are fading now, fading out

I've been keeping my eyes wide open
I've been keeping my eyes wide open

Wanita itu mendengarkan lantunannya, setelah mereka-reka ia pun mengangguk dan mulai memainkan drumnya.

Ooh, your love is a symphony
All around me, running through me
Ooh, your love is a melody
Underneath me, running to me

Oh, your love is a song

The dawn is fire bright
Against the city lights
The clouds are glowing now
The moon is blacking out, is blacking out

So I've been keeping my mind wide open
I've been keeping my mind wide open, yeah

Ooh, your love is a symphony
All around me, running to me
Ooh, your love is a melody
Underneath me, and into me

Oh, your love is a song
Your love is a song
Oh, your love is a song
Your love is strong

With my eyes wide open
I've got my eyes wide open
I've been keeping my hopes unbroken
Yeah, yeah

Ooh, your love is a symphony
All around me, running through me
Ooh, your love is a melody
Underneath me, running to me

Your love is a song
Yeah, yeah
Your love is my remedy
Oh, your love is a song

Lantunan lagu pun semakin lama memudar dan berhenti.

"suaramu bagus, juga gitarnya"

Pria itu tersenyum kecil, "terimakasih"

"oh ya, siapa namamu?"

"Walter"

"Luna" mereka saling berjabat tangan. Dan mereka membuat kesunyian yang tidak bertahan lama.

"kau.... mau ikut akademi mana saja?"

"akademi tari, acting, dan mungkin gambar" luna bangkit dari duduknya dan mendekati walter, "apa kau akan ikut akademi musik?" ujarnya sambil mengelus pelan gitar di genggaman walter dan menatap pria itu setelahnya.

"ya, mungkin kelas gambar juga bagus" Walter kembali tersenyum kecil, "ngomong-ngomong kelas tari apa yang akan kau perdalam?"

"street dance"

Walter mengangkat dagunya kagum, "kau tidak ingin masuk akademi musik? permainan drummu bagus, mungkin ada banyak teknik yang bisa kau pelajari lagi"

wanita itu tersenyum manis, "itu hanya hobi, kurasa tidak perlu kupelajari di sini"

Walter mengangguk-angguk perlahan".. tapi sungguh disayangkan permainanmu itu jadi tidak bisa dilihat banyak orang" gumamnya sembari melepaskan tali gitar dari bahunya.

"tidak masalah" Luna kembali tersenyum. "kalau kau, kelas apa yang kau pilih di akademi musik?"

"suara, dan gitar tentunya"

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pagi kembali terulang, ketika Walter memasuki pintu masuk sekolah itu untuk kedua kalinya, kemudian ia melewati lorong dengan langit-langit yang tinggi berwarna putih bersama dengan temboknya. Seseorang menyusulnya dari belakang hingga berada di sampingnya, "senang bertemu denganmu lagi, Walter" senyum dari Luna terukir dengan cantik, mengundang sebuah senyum manis di wajah Walter.

***

"Walter!" seorang pria rambut hitam berpotongan pendek cepak mendekati walter yang sedang duduk dan sibuk dengan lukisannya.

"Yura?" ia menatap seorang dengan wajah blesteran Amerika-Jepang mendekat dan melambaikan tangan padanya.

"wah, lama tidak bertemu, bagaimana? sudah dapat teman baru disini?" Yura menepuk bahu temannya itu.

Walter tersenyum dengan pandangan masih terpaku pada lukisan didepannya, "sudah, baru berkenalan dengan satu orang"

Sekejap Yura memandang temannya, "dari gelagatmu, apa dia seorang.. wanita?" Yura merunduk dan merangkul Walter dan tersenyum membuyarkan konsentrasinya.

"aduh.. kau menggangguku saja, sudah sana kerjakan pekerjaanmu!" ujarnya sambil melepaskan rangkulan orang berbaju biru dengan setelan jaket hitam dan celana hitam itu.

"alah.. mengalihkan topik pembicaraan, bilang saja iya"

"yaaa.. terserah kau sajalah"

Yura melepas tawanya, dengan posisi tetap berdiri disamping Walter dan memandang lukisannya ia berujar, "waw, lukisanmu boleh juga"

Di kejauhan sepasang mata sedang memandang kedua pria itu. Itu terlihat seperti Walter, batin Luna. Dia mendekati kedua pria itu, dan ia dapati salah satunya adalah Walter, dia pun memasang senyumnya.

"walter?"

"ah, Luna? kau dari kelas mana?" pria yang mengenakan celemek di dadanya menoleh ke arah kiri, melihat luna dengan rambutnya yang kini terkuncir.

"aku di kelas sketsa"

"hey, inikah wanita itu?" Yura menatap wanita cantik di sebelah kiri Walter, wanita yang memiliki keturunan Asia sama sepertinya, "kenalkan, aku Yura"

"Luna. Ini temanmu?"

"mungkin, terlalu mengganggu untuk dijadikan teman" Walter tertawa kecil memandang Yura.

"ya ya ya, begitulah dia kalau sudah berkenalan dengan wanita cantik, temannya malah di hina"

Luna hanya tertawa ringan. 3 detik sebelum itu Walter telah menyelesaikan lukisannya. "waw, lukisan yang indah"

"terima kasih" ucapnya menaruh kedua tangannya_yang salah satunya masih menggenggam kuas_di pinggang sambil memandang lukisannya dengan puas.

"oh ya, apa setelah ini kau ada acara?"

"tidak"

"apa kau mau menemaniku beli buku?"

Walter tersenyum, seakan ada sesuatu yang terasa manis di dalam hatinya, “tentu”

“heey, bagaimana denganku??” yura mendorong bahu pria berwajah tampan di depannya pelan, “kurasa kau tidak perlu ikut, kau hanya akan merusak suasana” walter menyingkirkan tangan yura, “benarkah? Bukannya kamu yang ingin berdua saja dengannya?”

“sudahlah, hanya beli buku saja kenapa dipersulit, kalian berdua ikut denganku” tegas luna.

“haha benar juga, kau dengar itu walter?”

“terserah”

_TBC_

2 komentar:

vionnika mengatakan...

hahaha aku ganteng?? apa kegantengan ku ngalahin iyo??
aku ngebayangin luna pasti cantik bgt *salma mode on

makasi ya iyo, dah di bikinin :)

IYO mengatakan...

yah, viooo, gw mau ganti cerita buat eluu..
yaudalah saya usahakan biar makin seruu
terimakasih :)