Tampilkan postingan dengan label Dreams. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dreams. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Februari 2014

Dia = Aku

Ketika masa mudaku kupenuhi dengan mengkhayal.. Dulu, aku berharap memiliki kekasih.. Dulu, aku mengharapkan artis-artis korea sebagai kekasih... Kemudian kriteria naik pangkat menjadi pria baik hati.. naik pangkat lagi menjadi pria pintar, kemudian kriteria bertambah lagi pria yang soleh.. ditambah lagi pria yang setia, ditambah lagi pria kaya dan dermawan.. Hingga keputusan akhir dari kriteria pria idaman adalah pria yang tampan, baik hati, baik harta, baik keturunan, penyayang, kaya, dermawan, setia, pintar dan soleh. Ketika dipikirkan lebih mendalam, hatiku bergumam "itu bukan pria idamanku, itu pria idaman semua wanita!"

Dari dulu aku lebih suka pria yang lebih tua dariku, minimal 2 tahun lebih tua, meskipun kadang tetap merasa merah jambu dengan pria sebaya yang pintar dan berwajah lumayan. Begitu suka dengan sifat pria yang dewasa, hingga aku sempat menyukai pria yang tidak lagi muda, tidak lagi lajang, dan pria yang tidak tertarik pada bocah semacamku.. sekilas itu terasa mengerikan, tapi sejak dulu aku memang lebih suka pria dewasa ketimbang yang masih ingusan..

Awalnya aku merasa jijik dengan diriku sendiri.. bahkan sampai aku menulis tulisan saat ini, itu sedikit membuat perutku tergelitik.. tapi jika kupikirkan dengan serius, aku merasa ini adalah tanda, tanda dimana aku harus lebih dewasa, lebih baik, lebih ramah, lebih menunjukkan sisi kedewasaan wanita yang dulunya hanya suka mengkhayal.. membuktikan bahwa aku bisa memasukkan semua kriteria idaman yang sebelumnya kujabarkan agar melekat dalam diriku, kecuali yang melawan kodrat alam seperti rupa yang tampan -..-

Tapi rasanya begitu sulit..

Allah.. Tuhan seluruh alam, pagi ini aku berdo'a semoga Engkau menjadikan aku wanita yang baik hati, tegar, sabar, semakin cantik baik luar maupun dalam, kaya, dermawan, pintar, dan solehah.. Berikanlah cinta-Mu untuk mereka yang aku cintai, sadarkanlah mereka yang sering luput atau bahkan tidak menganggap bahwa yang dilakukan adalah dosa.. perbanyaklah rezeki hamba, untuk saudara-saudara tercinta, dan untuk orang tua. Mudahkanlah segala urusanku, saudara-saudara tercinta, dan untuk orangtua. Cintailah kami Ya Allah. Aamiin ya Robbal alamiin.


Sabtu, 21 April 2012

Michael Buble Lyric - Guess I'm Fallin' in Love

When I look into your eyes
I see sunshine
The coulds are blown away
I hope you're here to stay
'Cause I've got me needing more of you
Guess I'm falling for you

You walk away
My eyes caress you
Then you turn and smile
You've caught me thinkin' of love with you
Guess I'm falling, I may be falling for you

Since I met you days are brighter
Life's uneven loads are lighter
When I hear you whisper the words I long to hear dear
Now I look into your eyes
I'm lost in knowing that you are all I want
My need for you is growing
Guess I'm falling, I think I'm falling for you
Think about falling for me too

Kamis, 14 April 2011

Dreams come true?

di sini, diblog ini, kebanyakan tulisan saya tentang fiksi, puisi atau mimpi, dan jarang sekali tentang perasaan sendiri.

tapi

berhubung bertambahnya usia, bertambah pula kedewasaannya, perasaan-perasaan asing terus saja bermunculan, menjanggal dihati, rasanya ingin dikeluarkan semua.. yah, tidak semua juga sih.

to the point

3 hari yang lalu, tepatnya hari senin, saya sempat tertidur pulas dengan sebuah mimpi. sepanjang yang saya ingat, saya hanya ingat seseorang dalam mimpi itu (itu tidak panjang -,-). Pria. Berjaket coklat. Dia menghampiri saya (dalam mimpi). Kami saling berbicara. Kami berbincang-bincang. Tertawa. Terlihat begitu asli. Benar-benar mengasyikkan. Karena terlalu asik, sampai-sampai aku lupa apa yang kita perbincangkan. Saya terlalu fokus dengan wajahnya yang... Sampai akhirnya saya terbangun oleh alarm di hp saya.

keesokan harinya, tepatnya hari selasa. Ketika sedang menanam (mungkin beberapa orang tahu kapan saat penanaman ini berlangsung), saya melihat orang itu. Dia juga mengenakan jaket coklat. Persis. Selama kurang lebih 3 detik kita bertatapan (3 detik itu cukup lama untuk hanya tidak sengaja melihat). Beberapa kali kami papasan di hari itu juga.

Entah kenapa, setelah berpapasan, saya tersenyum sendiri, ingat ketika dia tertawa di mimpi saya.. sungguh menyenangkan saat itu. Dan, kalau dipikir2, kini saya punya dugaan yang rasanya bisa jadi mungkin, saya rasa ada makna dari tatapan 3 detik itu...................... apa jangan-jangan orang itu juga memimpikan mimpi yang sama???

Rabu, 22 Desember 2010

Sweet Dream

aku bermimpi sangat indah -..-
ini dia mimpinya =>

Pagi yang cerah, dengan wajah pasrah, aku dan kakak laki-lakiku berangkat sekolah dengan berkendara motor seperti biasa. Hari ini adalah hari perbaikan nilai. Aku menaiki satu-persatu anak tanggah dengan gontai, dan tetap bersama kakakku. Sampai di lantai dua, tiga orang pria sebaya dengan kakakku menyapa kami, "hey, jadi main bola?--ah, anak kelas satu di sana" ujar salah satu dari mereka menghadap ke arah kakakku dan aku secara bergantian. Aku yang mengerti langsung menuju ruangan yang ditunjuk orang itu.

Aku memasuki ruangan dengan posisi pintu terbuka, aku mengamati orang-orang didalamnya, banyak teman-teman sekelasku, dan ada;WaT Eiji Wentz, disini ceritanya dia teman masa kecilku (waaaaah*mupeng*),
WaT Teppei Koike (kanan), dia temennya eiji,
TVXQ Xiah Junsu, dia hanya lewat-lewat saja,
BoA, dia juga cuma lewat2 saja,
Dalmatian, mereka juga cuma temen2 yang tidak aku kenal,
dan lain-lain yang kurasa mereka juga sekolah disini dan sebaya denganku (?)

Aku duduk kedua dekat jendela sebelah kiri, dan aku melihat orang yang duduk di sebelahku, didepanku, dan di belakangku wajahnya tidak ada yang kukenal. Saat itu semua murid sudah dibagikan soal perbaikannya (saya tidak tahu ini sedang perbaikan atau ulangan, semua murid mengerjakan -__-). Suasana saat itu sangat ramai, dan sepertinya banyak diantara mereka yang mondar-mandir mencara contekan. Saat itu aku tidak mengerti yang no. 8, lekas aku bertanya pada teman wanita yang ada dibelakangku, "aku tidak mengerti yang no.8, bisakah kau berikan jawabanmu padaku?" ujarku langsung meminta jawabannya tanpa meminta dijelaskan. "itu jawabannya b" jawabnya sedikit judes. Setelah kejadian itu, aku dan wanita itu menjadi dekat, sangat dekat. Kalau dibayangkan, kami seperti seorang lesbian (tapi tidak separah itu).

Setelah beberapa menit, beberapa murid mengumpulkan jawabannya. dan ketika aku ingin mengumpulkan, di sana Eiji pun telah selesai dan hendak menaruh jawabannya di meja guru. Aku tersenyum padanya, dia pun begitu, "kau sudah selesai? kukira butuh sehari buat mu mengerjakannya" ejeknya sembari tertawa, "hey, monyet, sialan kau!" (entah kenapa saat itu saya ngejek orang ganteng dengan sebutan 'monyet -,-). "hahaha, bercanda" ujarnya.

Saat itu aku sedang bermain dengan teman dekatku (wanita yg duduk dibelakangku dikelas), dia meingkari tangannya di lenganku, dan kami bercanda ria dengan teman-teman yang lain. Beberapa saat kemudian, Eiji datang dengan wajah sumringah, "Yo! aku dapet nilai bagus looh" dia menepuk pundakku, "wah, bagus dong" ujarku senyum kemudian mengabaikannya, wajah tampan Eiji langsung berubah kesal mendengar jawabanku yang tidak seperti biasanya; mengejeknya dan tidak mau kalah. "kamu dapet nilai berapa, nyet?" Eiji bersikukuh, tapi aku malah tidak mendengarnya.

Keesokan harinya, ada sebuah pertemuan para siswa, entah pertemuan apa namanya. Semua murid saat itu duduk di bawah beralaskan karpet hijau tua. Aku dan teman dekatku (wanita yg duduk dibelakangku kemarin) duduk dibarisan depan bagian pojok (terserah kalian saja mau membayangkannya seperti apa). Kami duduk dengan, bisa dibilang 'mesra', karena aku memeluknya dari belakang dan sempat mencium pipinya gemas ketika dia sedang berulah (saya sendiri geli), tapi saat itu rasanya wajar2 saja untuk seorang sahabat. Tapi aku baru menyadari bahwa kedekatan kami terlalu berlebihan (mungkin karena saat itu baju saya seperti laki-laki; baju kaos hitam dengan setelan kemeja kotak-kotak dan celana jins) ketika melihat eiji menatapku sinis dan kemudian membuang muka dari kejauhan. Aku sempat bingung, dan mencoba bertanya pada Eiji, tapi Eiji menghilang dari pandanganku. "hey, sepertinya kita harus mencari Eiji, dia salah paham" ujarku, dan teman dekatku mengangguk seolah dia mengerti apa yang aku maksud.

Kami mondar-mandir di ruangan itu tanpa memperhatikan guru didepan ruangan itu. "ketemu!" ujarku, tapi wajahnya tidak seperti Eiji. untuk menyadarkannya bahwa kami memperhatikannya, kami mengikuti gayanya. Dia sedang menggaruk pipi, kami ikuti. dia sedang menyandarkan kepalanya di tangan, kami ikuti. Hingga pada akhirnya dia menyadarinya, "apa sih?" ujarnya kesal.. dan aku baru menyadari bahwa itu bukanlah Eiji, melainkan :
(saya kurang jelas, antara orang yg paling bawah, sama yang dikanan bawah, rada nyampur2 mukanya)

kami pun kembali 'mondar-mandir', namun acara sudah selesai. sempat aku melihatnya, dia juga melihatku, tapi dia langsung pergi. Entah kenapa hatiku sedih (haha)

Dan tiba-tiba (namanya juga mimpi) sudah subuh, aku pun sholat subuh (hebat). Dan ternyata beberapa murid pagi ini akan pergi ke luar negri untuk pergantian siswa (mereka adalah artis2 yang saya sebutkan diatas diatas, termasuk eiji), ada beberapa murid juga yang sudah pergi tadi malam. Dan aku lupa untuk minta maaf pada Eiji skaligus memberi ucapan selamat tinggal, saat itu hatiku sangat kacau ( haha XD ). Aku berlalu pagi itu juga menuju ruangan milik Eiji dan Teppei (seperti sebuah sekolah asrama). Karena aku berada di kawasan wanita, aku tidak tahui dimana ruangan teman masa kecilku itu. Aku mencari di kamar-kamar yang dikhususkan untuk orang-orang pintar (artis2). beberapa ruangan yang telah kubuka kososng, sepertinya mereka sudah pergi kemarin malam. Ada salah satu kamar, kamar itu dihuni Junsu, dan dia masih tertidur lelap bagaikan bayi.

Sampai akhirnya di kamar Dalmentian, dan aku kembali bertemu dengan orang yang kukira Eiji itu dipertemuan siswa, "ah, kau lagi, mau apa datang subuh-subuh begini?" gumamnya tanpa dendam ketika melihat wajahku yang sedikit murung, "kau tahu dimana kamar WaT?" ujarku menghela napas berkali-kali, "WaT? di sebelah kamar kami" tanpa mengucapkan terimakasih aku langsung berlari menuju kamar sebelah.

Aku membuka pintu itu cepat-cepat. Gelap. ruangan itu kosong, di sisi kanan ruangan terdapan ruangan tak berpintu, dan disanalah Eiji keluar dengan tatapan yang masih sinis.

"mau apa kau datang ke sini?"
"a.. aku mau minta maaf, soal kemarin"
"tidak ada yang perlu dimaafkan"
"tapi aku sudah keterlaluan bukan?"
"tidak, aku memang monyet yang tidak perlu mendapatkan perhatian darimu"
aku terdiam
"sudahlah, kau kembali saja ke kamarmu" dia berbalik arah menuju ruangan lainnya dikamar itu.
dengan tiba2 aku memeluknya dari belakang seperti yang kulakukan ke teman dekatku.
"maaf, aku tidak bermaksud, maafkan aku, kau temanku saat kecil, kau temanku hingga sekarang, dan ada perasaan lain melebihi teman di dalam diriku terhadapmu. kau akan pergi bukan, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal... ah tidak, sampai berjumpa kembali"

kemudian dia melepas pelukkanku, dia menghadapku, wajahnya kini tidak sinis, kini seperti sedih.
"ya, aku maafkan.. aku juga punya perasaan yang sama, dan kukira kau tidak seperti itu"
beberapa saat sangat sepi suasananya, hingga akhirnya Eiji tertawa.
"lagi pula, aku tidak ikut pergantian siswa, aku menolaknya... malas" dia tertawa lagi, dan aku ikut tertawa..



kemudian, saya terbangun -____-
senangnya -..- rasanya pengen mimpi lagiii~

Kamis, 18 November 2010

Dreams That Can Not Be Trusted


haha, judulnya terlalu berlebihan..

ini bukan rekayasa, tapi ini juga bukan nyata, ini bukan fiksi, tapi ini mimpi..

Tokoh dimimpi saya ini ada 3 tokoh utama di harry potter, Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson, juga beberapa teman SMA saya seperti Syifa, Maudi, dan beberapa yg saya tidak ingat. Maklum saja kalau sedikit ada yg terlewat ya, saya lupa.

Saya merasakannya seperti sedang menonton film fantasi, hanya saja saya bisa merasakan kalau saya menjadi tokoh utama, jadi, rasanya seperti nonton, tapi sometimes seperti masuk ke dalam film itu.

Awalnya seorang wanita cantik berambut pirang tertidur disebuah kamar dengan dinding yang tercat biru dan beberapa lukisan matahari tersenyum, bulan tersenyum dll. Wanita itu adalah tokoh utamanya—yang saya yakini bahwa itu saya—terbangun dari tidurnya dan melihat kearah sekeliling. "Sudah pagi" saya dalam keadaan duduk dan masih dengan selimut, kasur dan selimutnya berwarna biru.

Tetapi tiba2 semua yang tadi saya anggap pagi, semua menjadi gelap, tidak benar2 gelap, hanya seperti kita mematikan lampunya saja. Sebuah asap pekat dan hitam, lebih hitam dari suasana yang ada kala itu keluar dari sela pintu dan semakin lama semakin memenuhi ruangan yang memang lumayan sempit untuk dijadikan kamar. Semakin lama, pandangan saya benar2 hitam, sama sekali tidak ada bayangan apapun.

Setelahnya saya terbangun, seperti terbangun dari sebuah mimpi di dalam mimpi saya, tapi kali ini umur saya lebih muda dari sebelumnya, jika tadi seperti remaja berumur 17 thn kini berumur 12 thn, dan disitu aku ingat bahwa kamar itu dulu memang kamarnya ketika kecil, dan saya mulai bertanya, entah dengan siapa, yang saya yakini ada orang dibalik ini semua, "kenapa aku kembali menjadi muda?" tiba2 suara berbisik terdengar, "kau ingin lebih muda lagi?" dan sebelum saya bisa menjawabnya, pandangan saya kembali gelap.

Kembali bangun seperti sebelumnya adalah mimpi, dan umur saya lebih muda dari sebelumnya, seperti anak berumur 9 tahun, tapi cara berfikir saya tetap seperti umur 17 thn. Ketika itu suasana dalam diri saya sangat tdk enak, seperti kalau kita terkejut berkali-kali, kaget dan lelah. Suasana kamar saat itu memang saya yakini seperti waktu saya berumur 9thn. "aku tidak ingin disini, aku ingin kembali!" saya mulai takut dan berkeringat, suara berbisik itu diam. "bagaimana pun caranya aku harus keluar dari sini" ujar saya terengah-engah. Saya melihat kesekeliling kamar, dan melihat ventilasi terbuat dari kayu terjejer di dinding sebelah kasur. Saya mulai berdiri dari kasur kemudian mengintip dari lubang ventilasi, ternyata setiap ventilasi pemandangannya beda2, ada yang suasana kamarnya ketika saya berumur 17, 12, 6, dan masih bayi. Pemandangan saat saya berumur 17, di situ ada saya yang sebelumnya masih tertidur. Tanpa berfikir panjang, saya masuk ke dalam ventilasi itu, dan suara berbisik itu kembali terdengar, "jangan kembali, jika kembali, kau akan selalu bertemu hal yang tidak diinginkan" kira2 kata2nya seperti itu. Tapi saya tetap ingin kembali, saya tidak tahan dengan keanehan saat itu, padahal awalnya saya merasa normal2 saja. Saya mencoba masuk ke dalam ventilasi yang menuju masa ketika umurku 17, dan berhasil.

Saya seperti baru saja bangun, padahal sudah kesekian kalinya saya tebangun dengan wujud yg berbeda-beda. Dan kali ini memang benar2 saya yg 17 tahun. Saya cepat2 bangkit dan keluar, hanya saja ada sesuatu yang tertanam dibenak saya, maklum saja kalau aneh, karena ini mimpi 'kalau saya melihat pusaran air di lubang wc, atau westafel atau pusaran apapun yang ada di kamar mandi, jika saya lebih memilih meninggalkannya, kamar mandi/toilet itu hingga ruangan2 didekatnya akan hancur dan melukai banyak orang, tapi jika saya lebih memilih diam hingga pusaran itu berhenti, saya akan selalu mendapatkan mimpi yang aneh dan mengerikan'

Dan setiap saya ke kamarmandi/toilet, pusaran itu selalu ada, pusaran itu disertai dengan beberapa kilatan seperti listrik hanya saja berwarna merah, dan saya lebih memilih diam. Sudah kurang lebih 3 kali saya mimpi aneh dan mengerikan (ini didalama mimpi saya, saya sedang mimpi). Ternyata yg mengalami seperti ini; melihat pusaran, dan lebih memilih diam. Bukan hanya saya, Emma juga mengalami hal serupa. Kami tidak tahan dengan semua keanehan ini, dan akhirnya kami lebih memilih tidak memperdulikan semuanya, dan kita mencoba untuk meninggalkan pusaran itu dan ruangan akan hancur.

"ada pusaran! tutup semua pintu kamar mandi! semua keluar dari sini!" pekik Emma padaku dan orang2 yg ada dirumah ini, awalnya saya kira saya di sebuah asrama atau sebuah penginapan, tapi tiba2 tempat itu jadi seperti sebuah mall. Saya dan Emma mencoba berlari sekencang-kencangnya dan menutup semua ruang kamar mandi/toilet yang ada dimall itu dan kami mengajak semua orang untuk keluar dari sana. Satu persatu kamarmandi/toilet itu hancur, ruangan didekatnya hancur. Karena ini di mall, Blender pun juga memiliki pusaran aneh itu dan ikut hancur berkeping2, potongan kacanya melukai semua yang ada didekatnya, banyak yang hancur dan terluka, semua berusaha untuk keluar dari mall itu termasuk saya, Emma, dan kedua teman saya yang lain, Daniel dan Ron. Saya 'menyeret' kedua lelaki itu, saya tidak berhasil menarik Emma, terkadang aku melihat Emma berlari, tapi tiba2 saja bayangan itu menghilang. Hingga pada akhirnya aku berhasil keluar dengan Daniel dan Ron yang mulai tersenyum (jujur, disini mereka sangat tampan). Dan tiba2 saja di belakang Daniel dan Ron sudah ada Emma dengan wajah sedikit murung, mungkin karena kami tinggalkan, "Emma? kamu dari mana saja?" saya menarik lengan Emma dan dia mulai kembali tersenyum, tapi anehnya ketika aku menariknya, Daniel dan Ron menatap saya aneh dan melirik Emma heran, ada sesuatu yang salah?

Saya dan Emma pergi tanpa kedua pria itu yang masih menatap kami aneh. Kami pergi menuju lorong tempat kami berkumpul dengan teman2 lainnya. Sesampainya disitu, saya berada di depan, dan Emma mengekor di belakang saya, kedua tangannya bertengger di bahu saya. Kami melewati lorong itu, beberapa teman saya dan Emma menyapa sambil tersenyum (bukan teman SMA saya). Tapi kurasa mereka hanya menyapa saya saja, dan menganggap Emma tak ada. Ketika kami hampir sampai di sebuah pintu terbuka yg nantinya akan kami masuki, Emma menyadari hal tadi, "Aneh, kenapa mereka hanya menyapamu? kenapa aku tidak" ujarnya yang tetap mengekor dibelakang saya, "iya juga ya, tadi Daniel dan Ron juga melihat kita dengan tatapan aneh" Tambahku, ketika kami sampai di ambang pintu, Emma berujar kembali dengan nada suaranya yang tersendat-sendat, "jangan-jangan. mungkin kah. aku sudah.." Tiba2 saja perasaan saya tidak enak, tangan Emma yg tadi di bahu saya semakin lama semakin tidak terasa, dan kini saya mulai menyadari, wajah saya saat itu seperti orang terkejut, ketika saya berbalik untuk melihat Emma, dia tidak ada dibelakang saya, hanya teman2 saya yang lain yg sedikit jauh dari tempatku berada. Benar ternyata, Emma sudah mati.

"hei kau! sini masuk!" Ujar Maudi, temanku yang lain. Saya masuk ke pintu itu, ada Maudi yg tidak berjilbab dan teman2 SMA saya yg lain tapi tidak terlalu jelas wajahnya. Dan tiba2 teman2 saya yang ada diluar pintu itu mengajak saya untuk masuk ke sebuah lift di lorong itu (sedikit aneh memang, maaf kalau gak kebayang) teman2 saya itu satu persatu memasuki lift kecuali Maudi dkk, sepertinya mereka mengetahui sesuatu sehingga ia mencegat saya, "jangan, mereka bukan manusia" semua org yang dilorong itu belum sepenuhnya masuk ke lift, sehingga ada yang mendengar perataan maudi, dan tiba2 mata mereka berubah menjadi merah, dan semakin lama orang2 yg didalam lift mulai keluar dengan mata ang sama dan mulai menghampiri kami. "tuh kan, tutup pintunya!" suruh maudi kepada saya dan teman2 yg ada didalam lainnya. Kami menutup pintu dan menahanya, mereka yg diluar mendorong intu itu kencang membuat kami lelah. Kami kalah jumlah, jumlah mereka kira2 20org, sedangkan kami hanya kurang lebih 5 orang. Pintu itu pun terbuka, perasaanku tidak enak, berdebar sangat kencang dan kuat hingga saya tidak kuat dan pingsan.

Pandanganku menghitam, kemudian tiba2 saja saya terbangun dan bangkit. Suasana kala itu seperti di mall tadi, tapi kali ini tidak bersama Emma (saat disini rasanya sedih sekali tidak ada Emma, rasanya seperti saya sudah lama kenal dengannya), tapi dengan teman saya yang lain, Syifa, disini kami sama sekali tidak memperdulikan siapapun, kami sudah lelah untuk peduli pada orang lain. Suasananya kacau seperti saat di mall sebelumnya, banyak yang hancur, dan kami memanfaatkan keadaan ini, kami mengambil banyak barang kebutuhan untuk kami bawa dan kabur ketempat lain, kami akan pergi jauh dari tempat aneh ini. Dari makanan2 instan, hingga kompor kecil, alat tulis(?), alat mandi dan baju, dan itu semua masuk ke 2 buah kantong belanja (ini baru yg saya bawa, belum bersama dengan apa yg syifa bawa). "Ayo keluar!" suruh Syifa, dan kami berpisah untuk mencari jalan keluar yang berbeda.

Saya berhasil keluar, tapi saya sempat terjebak diantara pusaran2 mengerikan yang meledakkan semua barang yang terbuat dari belik di dekatku. Saya tidak melihat Syifa, saya sempat berfikir apa dia tidak bisa keluar dari sana? Apa nasibnya akan sama seperti Emma? Tapi saya melihat seseorang di pintu masuk mall itu, Syifa sedang berbincang dengan seseorang lalu merunduk 90 derajat, tapi barang bawaannya sudah tidak ada, hanya kantong pelastik kosong yang telah terlipat di tangannya. Da keluar dan menghampiriku, “Syif, lu abis ngapain?” ujar saya menepuk bahunya, “itu tadi gw bareng *** (saya lupa) keluarnya, nah gw lupa kalo kita mau keluar tanpa bayar, si *** ngingetin gw bayar, eeh gw bayar dah, padahal gw kgk punya duit sama sekali, yaudah barang dibalikin semua” dia melihat saya sambil menertawakan dirinya sendiri, “aaah, dodol! Yaudah nih bawain punya gw satu” saya menyerahkan satu kantung belanja saya padanya. Tiba2 saja hujan, kami membuka 2 buah payung yang entah dari mana, berwarna orange dan abu2. Kami seperti berjalan di sebuah trotoar dengan dibatasi oleh dinding tinggi berwarna hijau, di depan kami sebuah gerbang terbuka, dan disana ada 2-3 orang menunggu kami, mereka adalah ojek payung (ini benar, benar2 aneh) ingin menagih payungnya. Karena kami masih butuh dan tidak ingin peduli dengan siapapun, akhirnya kami lari dari mereka hingga akhirnya kami tersungkur dan pingsan.

Syifa terbangun, namun saya belum, dia mencoba memanggil nama saya ketika dia melihat seekor anjing kecil berbulu coklat menjilati tangan saya. Saya mulai terbangun, kalian tahu? Wajah saya kini nampak seperti seorang pria, rambut saya tetap pirang hanya saja lebih pendek dari sebelumnya, pendeknya sepundak dan basah. Ketika saya melihat anjing itu, karena geli saya menendangnya. “syifa, kita akan kemana?” tanya saya yang berwujud pria itu (saya ingatkan lagi, saya sering merasa orang dalam tokoh utama itu adalah saya), “tidak tahu, kita jalan saja” percakapan kami yang seharusnya tidak baku menjadi baku.

Kami berjalan, terus saja berjalan hingga sampai ke sebuah lorong gelap, di sana ada 2 sel penjara dengan besi2nya yang telah berkarat dan usang, di dalam sel pertama ada seekor monater besar yang tidak jelas rupanya, yang saya ketahui dia memakai jubah dari baja (entah kenapa pikiran saya bilang seperti itu) dan menyodorkan tangannya ke luar sel, dan seekor anjing besar dengan bentuk yang jelek. Didepan sel itu ada 2 potongan kecil tubuh yang aneh, yg satu seperti satu ruas jari dengan kukunya, yang kedua nampak lebih besar dan abstrak. Saya yang jijik melihatnya menendang potongan itu dan kembali berjalan ke depan sel penjara yang kedua, di situ hanya ada seekor monster menghadap ke belakang dan tiba2 melirik kami tajam dengan mata merahnya. Kami pun tidak memperdulikannya dan fokus pada sebuah pintu di depan kami yang membuat lorong itu buntu, pintu itu terbuat dari kayu yang kusam berwarna coklat tua. Dari sana tiba-tiba keluar makhluk seperti dementor dalam film harry potter; makhluk hitam tak kasat mata berjubah hitam kusam dan compang-camping, hanya saja yang ini tidak begitu jelas bentuknya. Makhluk itu mennyerang kami dan membuat pandangan saya kembali hitam.

Saya terbangun, pandangan kali ini persis seperti awal saya bangun dengan wajah pria saya itu, bedanya kali ini sang pria tokoh utama ini tidak anggap sebagai ‘saya’ dan saya seperti menjadi syifa, tapi syifa tetap memanggil pria itu “iyo” nama saya. Pria itu tiba2 saja menyadari sesuatu dan mulai memberikan sebuah tulang—yang entah dari mana—ke anjing yang sebelumnya saya tendang, anjing itu pun menggoyangkan ekor pendeknya dan menikmati tulang itu, kemudian pria itu berjalan, “yo! Mau kemana?” ujar syifa yang melihat saya dengan tingkah yang berbeda. Pria itu tetap berjalan, syifa hanya bisa mengikutinya dari belakang, hingga akhirnya mereka sampai di 2 sel penjara tadi, pria(saya) itu mengambil 2 potongan aneh yang tadi saya tendang dan memberikannya ke monster di sel pertama, ternyata ruas jari itu miliknya dan dia memasangkan di jari kelingkingnya yang memang terpotong, dan potongan satunya adalah hidung anjing yang bentuknya tidak karuan itu. Monster dan anjing itu menunduk seakan berterima kasih pada kami, dan keluar dari sel itu. Syifa sempat takut, tapi ternyata monster itu berjalan menuju sel penjara di sebelahnya dan seperti memberitahu monster satunya sesuatu. Kemudian monster di sel kedua memberikan gelas ukur yang terlihat baru dan cairan ungu didalamnya kepada pria itu(saya).

Seperti yang sebelumnya, makhluk yg seperti dementor itu keluar dari pintu di depan kami, dan pria itu(saya) menumpahkan cairan ungu itu ke makhluk tadi. Dan tiba2 makhluk itu berubah, berputar-putar tidak berbentuk dan berubah menjadi seorang pria berambut hitam cepak, dan berwajah tampan mengenakan kemeja putih dengan kancing bewarna hitam dengan setelan jas hitam dan celana hitam. Pria itu tersenyum dan menendang saya yg kembali berwajah perempuan dan pandangan saya kembali gelap..... dan saya...... terbangun ^^

Maaf kalau tidak begitu jelas menjelaskannya, kalau terlalu detil bisa2 saya buat berchapter-chapter.. hahaha

Minggu, 18 Juli 2010

Strange Dream


kesunyian malam telah menyapa.
kelelahan muncul perlahan.
kepalaku lambat laun semakin pusing dan berat.

Dan akhirnya aku terlelap.

Mimpi.
Berada di sebuah istana, dengan langin yang kelabu.
Aku? aku terbang! ada sepasang sayap putih di punggungku.
Kepakannya sungguh indah.
Aku merasa sejuk di sini.

Aku melihat.
Seseorang yang kukenal, entah siapa tapi aku kenal.
Dia? dia juga terbang! ada sepasang sayap hitam di punggungnya.
Tidak indah dilihat.
Kurasa dia musuhku.

Dengan tiba2, aku seperti meresap kedalam sesuatu, memaksaku untuk memikirkan kenangan-kenangan indah dengan keluarga dan teman-temanku.
Ah, tidak.
Mereka hilang, memori tentang mereka hilang.

Dia? dia tersenyum, senyuman yang pahit.
Sepertinya dialah yang melakukannya.
Dan aku merasa kebencian telah tertanam di hati ini.
Dan sekejap dia mati karena serangan, entah itu kilat atau apa, yang keluar dari tanganku.

Aku terbangun. mimpi itu membuatku mengingatnya lebih spesifik. Ya, sepertinya aku mengenal orang itu. Temanku sendiri?

Kamis, 01 Juli 2010

wednesday, 30 june


Ketika aku terjerembab pada sebuah impian, tersungkur dari kenyataan, dan terjebak pada mimpi di pikiran, saat terlelap di tengah malam.

Bermimpi duduk di rerumputan. Dengan pemandangan laut pelangi nan indah, bagaikan lelehan es krim berombak. Kilauan matahari permata, memantul dari segala sisinya. Aku menikmati semua sajian itu, dan ada sesuatu, sesuatu yang kupikirkan, seseorang.

Seseorang yang sangat asing, tapi entah rasanya aku sangat menikmati pemikiran ini. Merasakan ada yang spesial dari orang itu.